Setiap daerah biasanya memiliki suatu ciri khas yang menjadi identitas daerah tersebut, begitu juga dengan Sumatera Barat. Provinsi ini memiliki maskot berupa tanaman asli pulau Sumatera, yaitu Andalas. Tanaman andalas dulu sangat banyak tumbuh di sepanjang pulau Sumatera, dari Aceh hingga Lampung, dan oleh karena itu, pulau Sumatera juga dikenal dengan pulau Andalas.
Khusus di Sumatera Barat, pohon andalas yang dulunya banyak tumbuh di provinsi ini menjadi sebuah ide nama daerah oleh masyarakat di Sumatera Barat. Ditemukan beberapa daerah bernama Andaleh (Andalas) seperti nagari Andaleh di Kab. Tanah Datar, Kab. Agam, Kab. Lima Puluh Kota, dan terdapat kelurahan Andalas di Kota Padang. Selain menjadi nama suatu daerah, kata Andalas ini juga digunakan dalam menamai instansi pendidikan di Padang yaitu, Universitas Andalas. Kata andalas yang tidak asing di telinga masyarakat Minangkabau ini memiliki makna tersirat bahwa kata ini cukup bermakna dan memiliki arti penting bagi masyarakat Minangkabau.
Kebanyakan masyarakat di Sumatera Barat pada zaman sekarang, hanya tahu nama atau kata andalas tersebut sebagai suatu nama daerah atau instansi. Mulai dilupakannya tanaman andalas, agaknya terlihat miris karena tanaman andalas yang memiliki banyak manfaat dan menjadi maskot Sumatera Barat ini tidak dikenal oleh masyarakatnya sendiri. Hal tersebut dapat berkaitan dengan jumlah populasi dari tanaman andalas (Morus macroura) yang semakin menurun hingga spesies ini dapat dikatakan langka di Sumatera Barat, meskipun secara global di dunia M. macroura dikategorikan sebagai Least Concern (tidak mengkhawatirkan) oleh IUCN Red List tahun 2020. Di Sumatera Barat, untuk menemukan tumbuhan langka ini harus melakukan perjalanan ke hutan hingga berhari-hari.
Semakin berkurangnya jumlah populasi pohon berkayu besar ini di
Sumatera Barat dikarenakan eksploitasi besar-besaran manfaat dari tumbuhan ini.
Pemanfaatannya dalam tradisi adat Minangkabau membuat pohon Andalas sering
dicari dan harganya pun cukup mahal. Kayu yang dihasilkan oleh tumbuhan ini memiliki
kualitas tinggi sehingga dapat digunakan untuk bahan perabotan. Pembangunan Rumah
Gadang (rumah adat) di Sumatera Barat juga memanfaatkan pohon andalas sebagai
bahan terpenting penyusunnya seperti tiang utama, landasan lantai rumah, papan
lantai dan dinding rumah.
Tumbuhan potensial ini juga terdapat potensi bahan aktif
yang dapat dijadikan sebagai obat baik dari daun, akar, juga batangnya. Antioksidan
turunan fenol termasuk stilben dihasilkan oleh pohon andalas. Fungsi antioksidan
tersebut yaitu mencegat dan bereaksi dengan radikal bebas dengna kecepatan yang
lebih besar dibandingkan reaksi antara radikal bebas dengan substrat. Selain itu,
antioksidan dan inhibitor tirosinase yang terdapat pada tumbuhan andalas memiliki
potensi sebagai bahan kosmetika untuk perlindungan dan pemutihan kulit atau anti
browning.
Memiliki manfaat yang sangat banyak, pohon andalas yang
juga menjadi maskot flora Sumatera Barat diharapkan menjadi motivasi dalam kegiatan
konservasi agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. Upaya konservasi
tersebut sedang dilakukan oleh berbagai aspek di masyarakat, terutama oleh
pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan pengenalan pohon andalas ditunjukkan
dengan dibangunnya plot monumental andalas dengan konsep konservasi-edukasi di
jalan lintas provinsi Kelok Sembilan. ‘Gertak’ yang merupakan singkatan dari
Gerakan Tanam Serentak andalas juga diwajibkan oleh pemerintah provinsi yang dilakukan
di seluruh kantor pemerintahan. Terdapat juga upaya-upaya yang dilakukan oleh
Universitas Andalas sendiri dalam meneliti dan mengenal lebih dalam tentang maskot
flora Sumatera Barat ini. Di lingkungan instansi pendidikan tersebut juga berupaya
dalam mengembangbiakan tumbuhan andalas di berbagai sudut kampus.
Tanaman andalas yang dikenal dengan nama Himalayan
Mulberry dalam bahasa Inggris diharapkan lebih dikenal khususnya masyarakat
di Sumatera Barat yang sangat familiar dengan kata andalas. Oleh karena itu, peran
seluruh lapisan di masyarakat sangat dibutuhkan. Pentingnya edukasi kepada
masyarakat tentang konservasi flora dan fauna dapat menumbuhkan kecintaan dan
kepedulian kepada lingkungan, khususnya dalam mengenal asal daerah sendiri demi
menciptakan ekosistem yang baik untuk anak-cucu kita nanti.
Sumber:
Djam’an, D.F & A.
Muharam. 2010. Mengenal Pohon Andalas (Morus macroura Miq) yang Mulai
Sulit Ditemukan. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian, 20 Oktober 2010.
Bandung.
Anwar, I. 2014. Andalas:
Pohon Asli Sumatera yang Terlupakan. Andalas University Press. Padang.
Komentar
Posting Komentar