Langsung ke konten utama

Ringkasan Biografi Rahmah El Yunusiyyah


Ringkasan Biografi Rahmah El Yunusiyyah
oleh Diana Fadhilah


Pendidikan pada masa silam sangat susah didapatkan.Hanya kalangan tertentulah yang dapat menuntut ilmu. Namun, pada masa itu lahirlah beberapa tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kemerdekaan negara dan terhadap pendidikan di Indonesia serta kesetaraan gender. Negeri kita, Minangkabau terkenal telah melahirkan tokoh utama di negara kita, baik itu alim ulama maupun para cendikiawan. Bukan hanya kaum pria yang menonjol, kaum wanitanya juga.
Salah satu tokoh perempuan hebat dari negeri kita, Minangkabau adalah  Rahmah El Yunusiyyah. Ia berperan besar dalam pembaharuan pendidikan Islam dalam rangka meningkatkan posisi kaum perempuan dengan cara membangun Diniyah School Putri. Diniyah School Putri merupakan buah terbesar karya Rahma yang sangat terkenal  di Nusantara bahkan hingga ke Mancanegara sampai saat ini.
Rahmah mendirikan sekolah itu karena ia tidak setuju dengan anggapan masyarakat dulu yang mengatakan bahwa secerdas apapun seorang perempuan, pada akhirnya kodrat dan takdir perempuan akan kembali pada kehidupan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan hal-hal yang biasa dilakukan oleh ibu rumah tangga. Rahmah merupakan satu dari sedikit perempuan di Sumatera Barat yang menolak anggapan tersebut. Bagi Rahmah, perempuan memiliki hak yang sejajar dengan kaum laki-laki yaitu hak untuk belajar dan mengajar. Bahkan dibandingkan dengan laki-laki, perempuan juga memiliki kecerdasan yang tak kalah hebat. Persoalannya, hanya terletak pada akses pendidikan.
Bagi banyak kalangan di Indonesia, nama Rahmah El Yunusiyyah barangkali masih terkesan asing. Begitu juga dengan perjuangannya dalam pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia yang mungkin tak segaung perjuangan Raden Ajeng Kartini. Namun, usahanya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan di Tanah Air tidak bisa dipandang sebelah mata.
Rahmah lahir dari pasangan Muhammad Yunus dan Rafi’ah pada tanggal 20 Desember 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Secara genetis ia berasal dari suku Sikumbang. Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Pada masa kecilnya, ia terkenal sebagai anak yang berkemauan tinggi, bercita-cita yang tinggi, dan kepribadiannya kuat serta berjiwa besar.
Ayah Rahmah merupakan seorang ulama besar yang menjabat sebagai kadi di negeri Pandai Sikat, Padang Panjang. Kakak sulung Rahmah bernama Zaenuddin Labay. Bagi Rahmah, ia merupakan seorang guru yang banyak memberikan bimbingan dan dorongan yang sangat berarti bagi perkembangan intelektual Rahmah. Zaenuddin Labay merupakan pendiri Diniyyah School. Zaenuddin Labay merupakan seorang pemberi inspirasi , pendorong cita-cita Rahmah, dan seorang guru bagi Rahmah El Yunusiyyah.
            Walaupun Rahmah hanya sempat menempuh sekolah dasar selama tiga tahun, namun kemampuan Rahmah dalam baca tulis Arab dan Latin sangat bagus yang dibantu oleh kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Rahmah merupakan seorang yang autodidak. Kecerdasan Rahmah mendorong ia untuk berfikir kritis, tidak lekas puas, dan selalu menjadi yang baru. Ketika ia tidak puas dengan sistem pendidikan Diniyah School yang kurang terbuka kepada siswa putri mengenai persoalan khusus perempuan, ia merasa perlu memperdalam pelajaran agama Islamnya dengan Haji Rasul (ayah Buya Hamka). Kemudian Rahmah berganti guru ketika Haji Rasul pulang kembali ke kampungnya. Ia berguru kepada Tuanko Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Mohammad Jamil Jambek, dan Syekh Daud Rasyidi.
            Pada 1 November 1923, Rahmah beserta teman-temannya mendirikan sekolah Madrasah Diniyah Al Banat yang dipimpin Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah. Angkatan pertama terdiri dari kaum ibu muda yang berjumlah 71 orang. Pada waktu itu, proses belajar berlangsung dengan sistem khalaqah, hanya mempelajari ilmu-ilmu agama dan gratika bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya, sekolah ini menerapkan sistem pendidikan modern yang mengintregasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum secara klasikal, serta memberi pelajaran keterampilan.
            Rahmah sangat memperhatikan sekolahnya, ia terus mengembangkan sekolah Diniyah Putri dan mencari tempat yang memenuhi syarat untuk sekolahnya. Ia mencari dana ke berbagai daerah hingga ke Aceh. Dana tersebut digunakannya untuk mendirikan gedung sekolah yang layak sesuai dengan keinginannya. Ibunya, Rafi’ah menyumbangkan tanahnya kepada Rahmah untuk mendirikan gedung yang layak tersebut.
            Tak lama setelah itu nama Rahmah dan Diniyah Putri segera melambung. Di Semenanjung Malaysia, Rahmah diminta keluaga kerajaan untuk mengajar di sekolah kerajaan. Berkat usahanya itu, negara-negara luar mulai mengenal dan memberikan perhatian kepada Diniyah Putri. Sumbanganpun banyak mengalir dan ia berhasil melakukan modernisasi terhadap perguruannya. Bahkan pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Mesir meminta siswa Diniyah belajar di negara mereka.      
Rahmah juga menuntut ilmu kebidanan di R.S Kayu Tanam tahun 1931-1935 dan ia mendapat izin praktek di sana.
Pada saat Indonesia merdeka, pada 17 Agustus 1945 Rahmah mendapatkan berita kemerdekaan itu  dari Mohammad Syafei dan Rahmah langsung mengibarkan bendera merah putih di halaman gedung sekolahnya. Ia menjadi orang yang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Padang Panjang.
Pada 12 Oktober 1945, Rahmah mempelopori berdirinya Tentara Keaman Rakyat (TKR) yang anggotanya berasal Laskar Gyu Gun. Ia tidak hanya mengayomi TKR (yang sekarang namanya TNI), tetapi juga barisan pejuang yang dibentuk organisasi Islam seperti Laskar Sabilillah  dan Laskar Hizbullah. Atas pengarunhya dalam dunia ketentaraan  dan pergerakan di Sumatera Tengah, ia dipenjara kemudian disekap di rumah polisi Belanda di Padang. Rahmah baru dilepas setelah mendapatkan undangan dari panitia Konferensi Pendidikan di Yogyakarta. Setelah konferensi selesai, ia mengikuti Kongres Kaum Muslimin Indonesia di Jakarta dan kembali ke Padang Panjang setelah penyerahan kedaulatan. Karena perjuangannya terhadap negara cukup besar, pada tahun 1955 ia terpilih sebagai anggota DPRS dari Partai Masyumi. Ia duduk di lembaga ini hingga tahun 1957.
Keberhasilan Rahmah dalam mengelola sekolah Diniyah Putri menarik perhatian Rektor Universitas Al Azhar Cairo, Mesir, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj. Maka pada 1955 dia mengadakan kunjungan khusus ke perguruan ini. Di kemudian hari ia mengambil sistem pendidikan Diniyah Putri ini untuk mahasiswinya. Pada saat itu, Universitas Al-Azhar belum memiliki lembaga pendidikan khusus untuk perempuan. Tidak lama setelah itu berdirilah Kulliyat al-Banat, sebagai bagian dari Universitas al-Azhar Cairo. Sebagai penghargaan, Rahmah diundang berkunjung ke universitas itu. Dalam kunjungan balasannya (1957) yang dilakukan sepulang menunaikan ibadah haji, Rahmah dianugerahi gelar Syaikhah oleh Universitas al-Azhar Cairo. Dengan gelar tersebut kedudukan Rahmah setara dengan Syeikh Mahmoud Syalthout, mantan Rektor al-Azhar, yang pernah berkunjung ke Indonesia tahun 1961. Hamka, yang mengaku sebagai adiknya, sangat mengaguminya dan mengatakan bahwa gelar tertinggi itu biasanya dikenakan bagi seorang laki-laki pakar ilmu agama (Syeikh). Sepengatahuannya selama beberapa ratus tahun ini, hanya Rahmahlah yang memperoleh anugerah gelar penghargaan tersebut di dunia Islam.
Setelah menunaikan tugas hidup dan perjuangannya akhirnya Rahmah berpulang ke Rahmatullah pada jam 18.00 menjelang maghrib, Rabu 26 Februari 1969 atau 9 Dzulhijah 1388 di rumahnya. Peristiwa ini terjadi dengan tiba-tiba, karena beberapa saat sebelumnya dia masih bercengkerama dengan beberapa orang tamunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akankah Tanaman Andalas yang Merupakan Maskot Sumatera Barat Hanya Tinggal Nama?

                              Setiap daerah biasanya memiliki suatu ciri khas yang menjadi identitas daerah tersebut, begitu juga dengan Sumatera Barat. Provinsi ini memiliki maskot berupa tanaman asli pulau Sumatera, yaitu Andalas. Tanaman andalas dulu sangat banyak tumbuh di sepanjang pulau Sumatera, dari Aceh hingga Lampung, dan oleh karena itu, pulau Sumatera juga dikenal dengan pulau Andalas.                Khusus di Sumatera Barat, pohon andalas yang dulunya banyak tumbuh di provinsi ini menjadi sebuah ide nama daerah oleh masyarakat di Sumatera Barat. Ditemukan beberapa daerah bernama Andaleh (Andalas) seperti nagari Andaleh di Kab. Tanah Datar, Kab. Agam, Kab. Lima Puluh Kota, dan terdapat kelurahan Andalas di Kota Padang. Selain menjadi nama suatu daerah, kata Andalas ini juga digunakan dalam menamai instansi pendidikan di Padang yaitu, Universi...

The Malayan Giant Frog (Limnonectes blythii)

                                                                               Limnonectes blythii yang dikenal dengan The Malayan Giant Frog saat ini hampir mendekati kepunahan. Walaupun spesies ini bukan endemik dari wilayah di Indonesia, data-data yang terkait tentang spesies ini masih sedikit. Spesies ini disebut dengan The Malayan Giant Frog karena spesies ini memiliki ukuran tubuh yang sangat besar, bahkan ada yang mencapai 26 cm. Spesies ini adalah katak terbersar kedua setelah Conraua goliath Famili Conrauidae dari Afrika Tengah (Iskandar, 1998). A.     Sistematika Kingdom       :           Animalia Phylum          :  ...